Sebenernya, Kerja Itu untuk Apa? Untuk Siapa?

“Berangkat pagi, pulang sore ~ Berangkat pagi, pulang malem ~ Berangkat pagi, pulang pagi ~ Berangkat malem, pulang pagi, siang berangkat lagi ~ Berangkat pagi, pulang sore, malem berangkat lagi”

Yakin mau gitu terus?
“Nggak, ya besok jadi wirausaha dong”
Yakin wirausaha bakal se-free itu?
“Ya, cari kerjaan yang di rumah full time dong”
Yakin di rumah bakal se-free itu?

Ada banyak hal kadang bikin kita mikir ulang tentang “kerja”. Buat apa kerja? Toh uang juga tetep abis, jabatan juga gini-gini aja, gaji sama aja, naik juga cuma Rp 5.000,00 doang! Terus buat apa kerja? Duit kaya cuma lewat aja!

Ya, demikianlah fase hidup. Kita merasa bahwa apa yang kita kerjakan itu kurang, dan sia-sia.

Gaji tiap bulan dikira “sama aja”, padahal Tuhan ngasih nikmat syukur yang luar biasa.

Tahukah kamu, ada banyak orang yang sedang mondar-mandir tiap hari, berpakaian rapi, bermap coklat masuk ruang HRD untuk seleksi? Harapan mereka sama seperti lulusan-lulusan Sarjana, SMA, bahkan Sekolah Menenngah Pertama lainnya, diterima di kantor yang diharapkan, jabatan yang diinginkan, dengan gaji di atas rata-rata.

Kalau kamu kira uang tidak bisa merubah apapun, itu hanya teori. Karena realitanya, uang dapat membuat apapun berubah, bahkan tingkat kehidupan sesorang.

Kamu tahu, kenapa ada beberapa orang yang rela 3x pindah pekerjaan dalam 1 tahun? Ya, alasan klise nya adalah untuk pengalaman, tapi alasan lebih jelasnya adalah gaji yang lebih besar!

Untuk apa gaji yang lebih tinggi? Untuk taraf hidup yang dapat memenuhi tingkat gengsi dan kebahagiaan duniawi.

Apa itu salah? Sama sekali tidak.

Coba kamu lihat, banyak orang yang bertahan jadi tukang parkir, pengemudi becak, guru honorer, dan tukang sapu jalan selama puluhan tahun. Mereka happy, senyum mereka sangat ikhlas. Ada banyak harapan dibanding mereka yang duduk di kursi empuk, berdasi, dan berkorupsi, sama sekali tidak ada harapan.

Ini hidup, kadang berbanding lurus, kadang berbanding terbalik dengan cita-cita di masa kecil.

Ini hidup, Tuhan mengijinkanmu untuk bekerja sesuai maumu, meski kadang bukan di passion mu.

Ini hidup, Tuhan mengatur pendapatanmu dengan siklus keuangan yang akan kau keluarkan setelah ini.

Pasrahkan saja, pekerjaan ini halal, bukan haram, tidak menyakiti siapapun.

Jika kau merasa pekerjaanmu rendah, gajimu sedikit, kendaraanmu tidak dapat kau pamerkan saat reuni sekolah, abaikan saja, toh hidupmu lebih bahagia dengan berlaku jujur seperti ini.

Tuhan Maha Asik, kan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s